ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KELAINAN JANTUNG BAWAAN VENTRIKEL SEPTAL DEFEK ( VSD )

A. PENGERTIAN
VSD (Ventrikulare Septum Defek) adalah suatu keadaan dimana ventrikel tidak terbentuk secara sempurna sehingga terdapat defek antara ventrikel kiri dan kanan, akibat darah dari ventrikel kiri mengalir ke ventrikel kanan pada saat sistole.
Besarnya defek bervariasi mulai dari ukuran milimeter (mm) sampai dengan centimeter (cm), yaitu dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
  1. VSD kecil : Diameter sekitar 1 – 5 mm, menimbulkan aliran berkecepatan tinggi dan murmur yang terdengar keras, yang secara hemodinamik tidak signifikan.
  2. VSD besar / sangat besar : Diameter lebih dari setengah dari ostium aorta, tekanan ventrikel kanan biasanya meninggi. Umumnya disertai murmur lemah dan pirau besar dari ventrikel kiri ke kanan. Bila tidak diobati, bisa terjadi hipertensi pulmonal dan sindroma Eisenmenger. Terapi yang dilakukan adalah penutupan defek dengan pembedahan sebelum terjadi hipertensi pulmonal.
B. ETIOLOGI

Penyebab utama secara pasti tidak diketahui, akan tetapi ada beberapa faktor predisposisi terjadinya penyakit ini yaitu :
  1. Pada saat hamil ibu menderita rubella,
  2. ibu hamil yang alkoholik,
  3. usia ibu saat hamil lebih dari 40 tahun
  4. Ibu hamil penderita IDDM.
C. PATHOFISIOLOGI
Kebocoran terjadi pada dinding bagian bawah yang memisahkan ventrikel kiri dan kanan yang memungkinkan darah mengalir langsung antar ventrikel. Akibatnya darah yang mengangkut oksigen dari paru-paru dan darah yang mengangkut karbondioksida dari seluruh tubuh bercampur. Darah segar yang telah mendapat oksigen masuk ke serambi jantung sebelah kiri hingga mengalir ke ventrikel kiri. Celah pada dinding ventrikel menyebabkan darah kembali masuk ke ventrikel kanan dan terpompa kembali ke pembuluh dan masuk paru-paru. Jumlah darah yang bertambah akibat kebocoran menyebabkan ventrikel kanan bekerja ekstra untuk memompa darah masuk ke paru-paru, hal ini akan meningkatkan tekanan arteri pulmonari.
Perubahan fisiologi yang terjadi sebagi berikut:
  • Adanya defek pada ventrikel, menyebabkan tekanan ventrikel kiri meningkat dan resistensi sirkulasi arteri sistemik lebih tinggi dibandingkan dengan resistensi pulmonal melalui defek septum.
  • Tekanan lebih tinggi pada ventrikel kiri dan meningkatkan aliran darah kaya oksigen melalui defek tersebut ke ventrikel kanan.
  • Volume darah yang meningkat dipompa ke paru yang akhirnya paru dipenuhi darah dan dapat menyebabkan naiknya tahanan vaskuler pulmoner.
  • Volume darah di paru akan meningkat dan terjadi resistensi pembuluh darah paru. Dengan demikian tekanan ventrikel kanan meningkat akibat adanya shunting dari kiri ke kanan. Hal ini akan menyebabkan resiko endokarditis dan mengakibatkan terjadinya hipertrophi otot ventrikel kanan sehingga akan berdampak pada peningkatan workload sehingga atrium kanan tidak dapat mengimbangi meningkatnya workload, maka terjadilah pembesaran atrium kanan untuk mengatasi resistensi yang disebabkan oleh pengosongan atrium yang tidak sempurna.
  • Jika tahanan pulmoner besar maka tekanan ventrikel kanan meningkat menyebabkan pirau terbalik, mengalirkan darah miskin oksigen dari ventrikel kanan ke kiri meyebabkan sianosis (sindrom Eissenmenger).
D. GAMBARAN KLINIK
Tergantung besarnya defek, resistensi vaskular pulmonal, lesi yang berkaitan. Tanda dan gejala yang umum didapatkan berupa:
  1. Keringat yang berlebihan.
  2. Berat badan tidak bertambah.
  3. Tanda yang khas adanya murmur pansistolik keras dan kasar, paling jelas pada kiri bawah sternum.
  4. Hipertrofi dan kardiomegali karena beban yang terlalu berat dari ventrikel kanan.
  5. Dispnea dan infeksi paru karena meningkatnya resistensi vaskular paru.
  6. Mungkin terdapat sianosis jika jongkok dan pengurangan aliran balik vena.
  7. Defek kecil sampai sedang: murmur, intoleransi aktivitas ringan, keletihan, dispnea selama aktivitas, infeksi salura nafas yang dapat berulang dan berat. Keseriusan tergantung dari ukuran dan derajat hipertensi pulmoner.
  8. Diameter dada bertambah terlihat adanya benjolan dada kiri
  9. Pada palpasi dan auskultasi : adanya VSD besar : Penutupan katub pulmonal teraba jelas pada sela iga 3 kiri dekat sternum, Kemungkinan teraba getaran bising pada dada
  10. Adanya tanda-tanda gagal jantung : sesak, terdapat murmur, distensi vena jugularis, udema tungkai, hepatomagali.
  11. Tachypnea
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
  1. Rontgen dada.
  2. Elektrokardiografi (EKG).
  3. Ekokardiografi; untuk menentukan posisi dan ukuran defek.
  4. Kateterisasi jantung; menunjukkan hubungan abnormal antar ventrikel.
  5. Angiografi jantung.
  6. Darah lengkap; uji prabedah rutin.
Pada pirau kecil hasil foto rontgen memperlihatkan ukuran jantung normal demikian juga pada hasil EKG. Pada defek sedang foto rontgen memperlihatkan pembesaran jantung ringan dan peningkatan aliran darah pulmonal, dan hasil EKG bervariasi. Defek besar tampak kardiomegali jelas dan epningkatan vaskular paru, EKG tampak hipertrofi ventrikel kanan (RVH), hipertrofi ventrikel kiri (LVH), taau keduanya.
F. KOMPLIKASI
1. Gagal jantung kronik.
2. Endokarditis kronik.
3. Insufisiensi aorta atau stenosis pulmoner.
4. Penyakit vaskuler paru progresif.
5. Kerusakan sistem konduksi ventrikel.
G. PENATALAKSANAAN
Pembedahan yang dilakukan untuk memperpanjang umur harapan hidup, dilakukan pada umur muda, yaitu dengan 2 cara :
  • Pembedahan : menutup defek dengan dijahit melalui cardiopulmonal bypass
  • Non pembedahan : menutup defek dengan alat melalui kateterisasi jantung
H. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Pengkajian Pernafasan
  • Gambarkan bentuk dada,simetris,adanya insisi,selang di dada atau penyimpa ngan lain.
  • Gambarkan penggunaan otot-otot pernafasan tambahan : gerakan cuping hidung,retraksi sub sternal dan interkostal atau sub clavia.
  • Tentukan rata-rata pernafasan dan keteraturannya.
  • Auskultasi dan gambarkan bunyi nafas,kesamaan bunyi nafas,berkurangnya / tidak adanya udara nafas,stridor,crakles,wheezing.
  • Gambarkan adanya tangisan bila tidak di intubasi.
  • Bila diintubasi catat ukuran pipa endotrakeal,jenis dan setting ventilator.
  • Ukur saturasi oksigen dengan menggunakan oximetri pulse dan analisa gas darah.
b. Pengkajian Kardiovaskular
  • Tentukan denyut jantung dan iramanya.
  • Gambarkan bunyi jantung termasuk murmur.
  • Tentukan poin maksimum impuls ( PMI ),poin dimana bunyi jantung terdengar paling keras.
  • Tentukan tekanan darah.Sebutkan ekstremitas yang digunakan dan ukuran yang dipakai.Pemeriksaan tidak boleh lebih dari 1 kali.
  • Kaji warna kuku,membran mukosa bibir.
  • Gambarkan warna bayi atau anak ( mungkin dapat menunjukkan latar belakang masalah jantung,pernafasan atau darah ).Sianosis,pucat,jaundice, mouting,
  • Gambarkan nadi perifer,pengisian kapiler ( kurang dari 3 detik )
  • Pastikan monitor,parameter dan alarm posisi “On”
c. Pengkajian gastrointestinal
  • Tentukan adanya distensi abdomen,meningkatnya lingkar perut,kulit yang terang ( bright ),adanya eritema dinding abdomen,tampaknya peristaltik, bentuk usus yang dapat dilihat,status umbilikus..
  • Tentukan adanya tanda-tanda regurgitasi,waktu yang berhubungan dengan pemberian makan,bila memakai NGT tentukan karakter,jumlah residu,warna, konsisten,PH vairan lambung.
  • Palpasi area hati.
  • Gambarkan bising usus,ada atau tidak ada.
  • Gambarkan jumlah,warna,konsistensi feces.
d. Pengkajian genitourinari
  • Gambarkan bentuk abnormal dari genetalia..
  • Gambarkan jumlah ( ditentukan oleh berat badan ), PH dan berat jenis untuk menggambarkan status cairan.
  • Timbang berat badan ( tindakan yang paling sering dilakukan untuk mengkaji status cairan.
e. Pengkajian neuromuskuloskeletal
  • Gambarkan gerakan bayi : random,bertujuan,twitching,spontan,tingkat akti fitas dengan stimulasi,evaluasi saat kehamilan dan persalinan.
  • Gambarkan sikap dan posisi bayi/anak : fleksi atau ekstensi.
  • Observasi reflek moro,sucking,babinski,plantar dan reflek lain yang diharapkan.
  • Tentukan tingkat respon.
  • Gambarkan adanya perubahan pada lingkar kepala ( bila ada indikasi ) ukuran, tahanan fontanel, dan garis sutura.
  • Gambarkan respon pupil pada bayi yang usia kehamilannya lebih dari 32 minggu.
f. Pengkajian kulit
  • Gambarkan beberapa perubahan warna,daerah kemerahan,tanda iritasi,abrasi, khususnya dimana terdapat daerah penekanan oleh infus atau alat yang lain kontak dengan bayi/anak,juga observasi dan catat bahan yang digunakan untuk perawatan kulit.
  • Tentukan tekstur dan turgor kulit : kering,lembut, dan lain-lain.
  • Gambarkan adanya rash,luka kulit atau tanda lahir.
  • Gambarkan kateter infus dan jarum yang digunakan dan observasi adanya tana infiltrasi.
  • Gambarkan adanya infus parenteral : lokasi;arteri,vena perifer,umbilical, sentral.Jenis infus ( obat,saline,dektrose,elektrolit,lemak,TPN ).
g. Temperatur
  • Gambarkan suhu kulit dan axilla.
  • Gambarkan hubungan dengan suhu lingkungan.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan bentuk lubang,disfungsi miokard.
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kongesti paru.
c. Volume cairan berlebih berhubungan dengan akumulasi cairan ( edema ).
d. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan tubuh berhubungan dengan nutrisi tidak adekuat.
e. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan suplai dan kebutuhan oksigen tidak seimbang / ketidakmampuan / kelemahan sekunder terhadap penurunan curah jantung.
f. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, kongestif paru.
g. Gangguan psikologis pada anak dan atau keluarga berhubungan dengan masa perawatan di rumah sakit.
3. Rencana Keperawatan
a. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan malformasi jantung.
Tujuan : meningkatkan curah jantung
Kriteria Hasil : anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung
Intervensi :
§ Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warna dan kehangatan kulit.
§ Observasi adanya sinosis , membran mukosa, clubbing
§ Monitor tanda-tanda vital
§ gelisah, takikardi, tacipnea, sesak, lelah saat minum susu, periorbotal edema, oliguri dan hepatomegali )
§ Berkolaborasi dalam pemberian digoxin sesuai order dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toxisitas.
§ Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload
§ Berikan diuretik sesuai indikasi
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal.
Tujuan : meningkatkan resisitensi pembuluh paru
Kriteria Hasil : anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru
Intervensi :
 Monitor kualitas dan irama pernafasan
 Atur posisi anak dengan posisi fowler
 Hindari anak dari orang yang terinfeksi
 Berikan istirahat yang cukup
 Berikan nutrisi yang optimal
 Berikan oksigen jika ada indikasi
Tidak toleransi terhadap aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplay oksigen ke sel.
Tujuan : mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat
Kriteria Hasil : anak akan mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat dan anak akan berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh seusianya
Intervensi :
 Ijinkan anak untuk sering beristirahat dan hindari gangguan pada saat tidur
 Anjurkan untuk melakukan permainan dan aktivitas ringan
 Bantu anak untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi dan kemampuan anak
 Berikan periode istirahat setelah melakuakan aktivitas
 Hindarkan suhu lingkungan yang terlalu panas atau dingin
 Hindarkan hal-hal yang menyebabkan ketakutan kecemasan pada anak.
4. Perubahan pertumbuhan dan perkembanganberhubungan dengan tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan
Tujuan : mempertahankan pertumbuhan berat badan yang sesuai
Kriteria Hasil : anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan
Intervensi :
 Sediakan diet yang seimbang, tinggi zat-zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat
 Monitor tinggi dan berat badan, dokumentasikan dalam bentuk grafik untuk mengetahui kecenderungan pertumbuhan anak
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori
Tujuan : mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan
Kriteria Hasil : anak akan mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan
Intervensi :
 Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan waktu yang sama
 Catat intake dan output secara benar
 Berikan makanan dengan porsi kesil tapi sering untuk menghindari kelelahan pada saat makan
 Hindari kegiatan perawatan yang tidak perlu
 Pertahankan nutrisi dengan mencegah kekurangan kalium, natrium dan memberikan zat gizi
 Sediakan diet yang seimbang, tinggi zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat
 Anak-anak yang mendapatkan diuretik biasanya sangat haus, oleh karena itu cairan tidak dibatasi.
6. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya status kesehatan.
Tujuan : mencegah terjadinya infeksi
Kriteria Hasil : anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi
Intervensi :
 Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi
 Berikan istirahat yang adekuat
 Berikan kebutuhan nutrisi yang optimal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: