ASAM BASA

A. Pengertian

Asam adalah molekul yang mengandung atom-atom hidrogen yang dapat melepaskan ion-ion hidrogen dalam larutan.

Basa adalah ion atau molekul yang dapat menerima ion hidrogen.

Keseimbangan asam basa adalah homeostatis dari kadar ion hidrogen pada cairan tubuh.

B. Fisiologi keseimbangan asam basa

pH atau derajat keasaman darah tergantung pada konsentrasi ion H+.

Ada 3 sistem utama yang mengatur konsentrasi ion hidrogen dalam cairan tubuh untuk mencegah asidosis atau alkalosis, yaitu :


1. Sistem penyangga asam-basa kimiawi dalam cairan tubuh

Terdapat 4 macam buffer kimia utama dalam tubuh yaitu:

a. Sistem buffer bikarbonat-asam bikarbonat

Sistem penyangga bikarbonat terdiri dari larutan air yang mengandung dua zat yaitu asam lemah dan garam bikarbonat. Sistem ini merupakan jumlah terbesar yang terdapat dalam cairan ekstra seluler. Penentuan pH berdasarkan persamaan Henderson-Hesselbach:

pH = pK + log (HCO3 )

(pCO2)

b. Sistem buffer fosfat

Sistem ini terutama terdapat di dalam sel darah merah dan sel-sel lain, terutama di dalam tubulus ginjal karena fosfat biasanya menjadi sangat pekat dalam tubulus, sehingga meningkatkan tenaga penyangga system fosfat dan cairan tubulus biasanya mempunyai pH yang lebih rendah daripada cairan ekstraseluler, menyebabkan jangkauan kerja penyangga lebih mendekati pH sistem. Buffer fosfat terdapat dalam bentuk Na2HPO4 dan NaH2PO4.

c. Sistem buffer protein

Sistem ini terutama terdapat di dalam sel-sel jaringan dan juga bekerja di dalam plasma. Dapat bekerja sebagai asam lemah dan basa lemah ataupun garam basa yang dapat mengikat atau melepaskan ion H+.

d. Sistem buffer hemoglobin

Hb bekerja sebagai asam lemah dan membentuk sistem buffer dengan basa kuat seperti bikarbonat dan fosfat.

2. Sistem pernafasan

PACO2 di dalam alveoli berada dalam keseimbangan dengan PaCO2 dan H2CO3 dalam darah. Tiap perubahan pada PACO2 akan mempengaruhi PaCO2 dan H2CO3. Bila kadar H2CO3 meningkat, maka akan menyebabkan PaCO2 juga meningkat yang akan diikuti oleh perangsangan pusat pernafasan, sehingga timbul hiperventilasi untuk mengeluarkan CO2 lebih banyak.

3. Sistem keseimbangan asam-basa oleh ginjal

Pada keadaan keasaman darah yang meningkat, ginjal akan mengeluarkan ion H+ dan menahan ion HCO3 untuk mempertahankan pH darah dalam batas normal, sehingga akan menghasilkan urin yang bersifat asam (pH = 5,5-6,5). Ginjal mengatur konsentrasi ion hidrogen cairan ekstraselular melalui tiga mekanisme dasar yaitu sekresi ion-ion hidrogen, reabsorbsi ion-ion bikarbonat yang disaring dan produksi ion-ion bikarbonat baru.

C. Nilai normal gas darah:

Jenis Gas Darah

Darah Arteri

Darah Vena

pH

7,35 – 7,45

7,33 – 7,47

pO2

80 -100 mmHg

34 – 49 mmHg

Saturasi O2

> 95 %

70 – 75 %

pCO2

35 – 45 mmHg

41 – 51 mmHg

HCO3

22 – 26 mEq/L

24 – 28 mEq/L

BE

-2 – +2

0 – + 4

Keterangan:

1. pH merupakan logaritma negatif pada konsentrasi ion hidrogen yang digunakan untuk menentukan asiditas atau alkalinitas cairan tubuh. Bila ion H+ meningkat pH akan rendah dan bila ion H+ menurun PH akan meningkat

2. PaO2 (tekanan parsial oksigen) adalah tekanan yang ditimbulkan oleh oksigen yang terlarut dalam darah. PaO2 akan memberikan petunjuk cukup tidaknya oksigenisasi darah arteri. pH dapat mempengaruhi daya ikat oksigen dan Hb, dan pada pH yang rendah oksigen yang tersedia dalam hemoglobin hanya sedikit. Kadar PaO2 juga berkurang pada penyakit pernapasan, seperti emfisema, pneumonia, dan edema paru; juga pada keadaan Hemoglobin abnormal (CO Hb, Meth Hb, Sulfa Hb); dan pada polisitemia.

3. SaO2 adalah derajat kejenuhan Hb dengan oksigen. Saturasi O2 sangat membantu untuk menghitung kandungan oksigen dalam darah yang berikatan dengan hemoglobin. Pengukurannya dilakukan secara tidak langsung melalui ko-oksimetri. Gabungan antara saturasi oksigen, tekanan parsial oksigen, dan hemoglobin menunjukkan jaringan teroksigenisasi.

4. pCO2 adalah tekanan partial yang ditimbulkan oleh CO2 yang terlarut. pCO2 ini merupakan parameter untuk mengetahui fungsi respirasi dan menentukan cukup tidaknya ventilasi alveolar.

  • pCO2 nomal : ventilasi normal
  • pCO2 tinggi : hipoventilasi
  • pCO2 rendah : hiperventilasi

Karena CO2 merupakan unsur respirasi, maka nilai pCO2 akan menunjukkan jenis kelainan asam dan basa:

  • pCO2 tinggi : asidosis respiratori
  • pCO2 rendah :alkalosis repiratori

5. HCO3 (bicarbonate) adalah parameter metabolik (non respirasi) yaitu nilai bikarbonat yang terkandung dalam arteri. Digunakan sebagai pedoman adanya kelainan asam basa yang disebabkan unsur metabolik (bukan karena masalah respirasi).

6. BE (base excess) menggambarkan secara langsung kelebihan basa kuat/kekurangan asam tetap atau kekurangan basa/kelebihan asam.
Bila nilai positif menunjukkan kelebihan basa dan bila nilai negatif menunjukkan kelebihan asam.

  • HCO3 ↑ atau BE ↑ : alkalosis metabolik
  • HCO3 ↓ atau BE ↓ : asidosis metabolik

D. Penyebab gangguan keseimbangan asam basa:

1. Asidosis metabolik

Gangguan klinis yang ditandai rendahnya pH (peningkatan konsentrasi ion hidrogen) dan rendahnya konsentrasi bikarbonat plasma. Asidosis Metabolik adalah kekurangan HCO3. Terjadi pada keadaan seperti banyak penimbunan asam: DM tak terkontrol atau kelaparan, penimbunan asam-asam inorganik: gagal ginjal, intoksikasi alkohol, penimbunan NaCl berlebihan, ketoasidosis diabetik, diare berat, kelaparan, syok, luka bakar, infark miokardial akut.

2. Alkalosis metabolik

Gangguan klinis yang ditandai oleh pH yang tinggi (penurunan konsentrasi ion hidrogen) dan konsentrasi bikarbonat plasma yang tinggi. Alkalosis metabolik adalah kelebihan bikarbonat. Terjadi pada keadaan: muntah-muntah berat, overkompensasi terhadap alkalosis repiratorik, kelebihan pemberian Na-bikarbonat, pengisapan lambung, ulkus peptik, pengeluaran K, gagal hepar, kistik fibrosis. Pengaruh obat: Natrium bikarbonat, Natrium oksalat, Kalium oksalat.

3. Asidosis respiratorik

Gangguan klinis dimana pH kurang dari 7,35 dan tekanan parsial karbondioksida arteri (PaCO2) lebih besar dari 42 mmHg. Asidosis respiratorik merupakan akibat penumpukan CO2 dalam darah akan meningkatkan H2CO3. Terjadi pada keadaan: empisema, asma (PPOK), pneumonia, ARDS, sindrom Guillain-Barre, anestesi. Pengaruh obat: narkotik dan sedatif.

4. Alkalosis respiratorik

Kondisi klinis dimana Ph arteri lebih tinggi dari 7,35 dan PaCO2 kurang dari 38 mmHg. Alkalosis respiratorik merupakan akibat pengeluaran CO2 berlebihan pada hiperventilasi. Terjadi pada keadaan: gangguan emosional, demam, kelaianan serebral, pemakaian ventilator, toksisitas salisilat (fase awal), kecemasan, histeris, tetani, olahraga aktif (berenang, lari), hipertiroidisme, delirium tremens, emboli paru.

E. Interpretasi Hasil:

Jenis Gangguan

pH

pCO2

HCO3

Asidosis Respiratorik

Murni

N

Terkompensasi Sebagian

Terkompensasi Penuh

N

Asidosis Metabolik

Murni

N

Terkompensasi Sebagian

Terkompensasi Penuh

N

Asidosis Respiratorik + Metabolik

↓↓

Alkalosis Respiratorik

Murni

N

Terkompensasi Sebagian

Terkompensasi Penuh

N

Alkalosis Respiratorik

Murni

N

Terkompensasi Sebagian

Terkompensasi Penuh

N

Alkalosis Respiratorik + Metabolik

↑↑

2 Responses to ASAM BASA

  1. yannov mengatakan:

    mantapzz..,makasi kunjungannya..salam kenal yaaa.,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: