Pedoman Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan

Pertolongan pertama sangat dibutuhkan dalam kegawat daruratan karena membantu menangani korban. Akibat salah penanganan dapat mengakibatkan hal yang tidak diinginkan bahkan sampai dengan kematian. Tindakan pertolongan pertama yang cepat dan tepat sangat diperlukan saat menangani korban, yang semua itu ditujukan untuk mencegah maut, mencegah atau mengurangi komplikasi (cacat/infeksi), dan menunjang upaya penyembuhan. Dalam hal ini diperlukan sikap dan perilaku seorang pelaku pertolongan pertama sebagai berikut:

  • Tetap tenang dan memperhatikan situasi & kondisi sekitar
  • Kumpulkan keterangan yang diperlukan dengan cepat, jelas & lengkap
  • Lakukan penanganan sederhana & tepat sesuai jenis cedera
  • Bawa korban ke sarana kesehatan terdekat untuk perawatan lebih lanjut

Pertolongan pertama pada kedaruratan meliputi respon dalam menyelamatkan kehidupan, melindungi korban terutama bila dalam kondisi tidak sadar, mencegah perburukan kondisi korban, dan membantu pemulihan korban, dalam kecelakaan maupun penyakit yang tak dapat diperkirakan.

DEMAM

Bila suhu tubuh lebih dari 37,6o C. Penanganan demam: kompres dengan air hangat pada bagian dahi, leher dan ketiak serta dilipatan paha. Berikan minum yang banyak. Berikan obat penurun panas misal parasetamol atau segera bawa ke puskesmas/petugas kesehatan terdekat.

PERDARAHAN/ MIMISAN

Posisikan penderita dalam keadaan duduk. Pegang hidung pada bagian yang lunak dengan kuat dengan ibu jari dan telunjuk. Condongkan kepala ke depan dan tahan hidung ± 10 menit. Bila mimisan telah berhenti, jangan meniup atau menghirup. Jika terjadi perdarahan hidung yang banyak, segera ke rumah sakit/puskesmas terdekat.

LUKA IRIS

Disebabkan oleh pinggiran kaca, pisau, silet dan sebagainya yang tajam.

  1. Ringan – cuci luka dengan sabun dan air, jangan gunakan alkohol. Balut dengan kasa steril dan perban.
  2. Parah – bila darah menyembur atau memancar, ikuti langkah berikut dan carilah pertolongan. Ambil sehelai kain atau handuk bersih, tekankan kuat-kuat pada luka selama 10 menit. Jangan lepaskan tekanan jika hanya untuk mengetahui keberhasilannya. Bila memungkinkan, posisikan bagian yang terluka lebih tinggi dari dada. Bila perdarahan tidak berhenti setelah 10 menit, tutuplah luka dengan perban. Bila perdarahan tidak berhenti juga, cobalah menekan lebih keras selama lima menit lagi dan carilah bantuan medis.

LUKA ROBEK

Suatu luka yang kasar dan tidak rata. Luka-luka ini disebabkan benda-benda kasar atau benda-benda tajam lain, bukan oleh benda seperti pisau. Hentikan perdarahan dengan memberikan tekanan , bersihkan kulit sekitar luka dan keluarkan hanya pecahan-pecahan yang besar dan terlihat,selebihnya biar dilakukan oleh petugas kesehatan. Tutup dengan kassa steril . Dibalut dengan tekanan. Angkat dan istirahatkan bagian yang luka. Bawa ke RS untuk dijahit dan diberi antibiotik serta anti tetanus.

PEMBALUTAN

Tujuan:

  1. Menghentikan perdarahan pada luka terbuka.
  2. Menahan bagian tubuh yang luka agar tidak bergeser/bergerak.
  3. Mencegah pembengkakan pada daerah luka.
  4. Menutup daerah luka agar tidak terkontaminasi.

Cara:

  • Siapkan kasa/bebat,bila tidak ada bisa digunakan kain seperti serbet,taplak,dll.
  • Jika luka terbuka,berikan desinfeksi(betadhin) pada luka sebelum dibalut. Tekan luka dengan jari atau telapak tangan.
  • Tutup dan tekan luka dengan sapu tangan/kain bersih. Balut/bebat tekan pada luka.

LUKA MEMAR

Luka tertutup dimana kerusakan jaringan dibawah kulit hanya tampak sebagai benjolan jika dilihat dari luar.

Tanda – tanda : Daerah yang luka bengkak,rasa sakit,lemah dan berwarna kebiruan

Penanganan memar : Menggunakan prinsip RICE:

  • R = Rest Istirahatkan anggota tubuh yang sakit
  • I = Ice pack Kompres bagian yang cedera dengan es selama 20 menit, yang akan mendinginkan jaringan yang cedera tanpa menyebabkan peningkatan aliran darah lokal. Es juga akan menghilangkan nyeri, tapi kulit harus dilindungi dari es dengan cara membungkus es dengan kain yang agak tebal atau memakai selapis tipis jelly minyak.
  • C = Compressio Sebuah balutan penekan harus digunakan untuk mengurangi perdarahan lebih jauh kedalam jaringan.
  • E = Elevasi Tinggikan bagian yang cedera sehingga akan mengurangi aliran darah kebagian yang cedera

KESELEO/ TERKILIR

Terkilir adalah suatu kondisi di mana ligamen (ikatan sendi) di sekitar sendi teregang atau sobek. Paling sering pada pergelangan tangan dan tumit kaki. Penanganan : Istirahatkan bagian yang terkilir. Kompres dengan bantalan dingin atau es dalam tas plastik untuk mengurangi nyeri & bengkak. Tahan sendi dengan melakukan pembalutan agar tidak banyak bergerak. Hati-hati kemungkinan terjadinya patah tulang. Jangan membebani bagian yang keseleo. Keseleo yang terus-menerus harus diperiksa ke dokter.

LUKA BAKAR

Ringan – Segera dinginkan luka dibawah air dingin yang mengalir atau wadah berisi air dingin selama minimal 5 menit atau sampai nyerinya berkurang. Jangan menggunakan pasta gigi, mentega, minyak, atau salep. Jangan memecahkan lepuhan atau melepaskan kulit mati. Tutuplah dengan kasa. Bila lepuhan pecah, tutuplah dengan kain bersih. Bila luka bakar berada di wajah, tutuplah hanya bagian yang lebih besar dari ukuran telapak tangan anda, bila lepuhannya pecah, hubungi dokter.

Parah – Baringkan korban dan tutupi. Jangan melepaskan pakaian atau membersihkan luka. Mintalah bantuan kedaruratan.

Kimia – Segera basuh luka dengan air selama lima menit, tutuplah dengan kasa dan mintalah bantuan kedaruratan.

PATAH TULANG

Patah tulang ini akan terlihat sangat dramatis tetapi sebenarnya jarang yang mengancam nyawa tetapi justru sering mengancam anggota gerak.Harus diingat adalah pada sekitar tulang terdapat jaringan lunak yang terdiri dari otot, syaraf, dan pembuluh darah sehingga gangguan adanya patah tulang bukan tidak mungkin juga akan mengganggu saraf atau pembuluh darah. Penyebab patah tulang dapat berupa benturan yang keras dan kuat, tumor atau infeksi dan usia lanjut (tulang rapuh. Patah tulang dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu:

  1. Patah tulang tertutup jika tidak terlihat adanya tulang yang menonjol dan kulit di atas tulang yang patah masih utuh tidak mengalami kerusakan
  2. Patah tulang terbuka, lebih serius dan lebih nyata terlihat karena tulang benar-benar menonjol dari kulit atau bahkan telah membuat luka. Seringkali cenderung mengalami infeksi.

Tanda-tanda patah tulang :

  • Rasa sakit pada tulang yang patah (tetapi tidak selalu).
  • Mungkin terdapat pembengkakan/memar atau perdarahan.
  • Daerah yang terkena tak dapat digerakkan atau gerakan menjadi terbatas.
  • Tulang dapat menonjol melalui kulit.
  • Mungkin jelas terlihat adanya perubahan bentuk, bengkok,atau goyang-goyang pada daerah yang terkena.

Penanganan : Hentikan perdarahan yang ada dan tutupi luka dengan kain bersih. Bila patah tulangnya sederhana, lakukan pembidaian (dengan kayu, karton tebal, selimut gulung, bantal, dan sebagainya) yang diikat dengan kain atau tali. Jangan memindahkan pasien bila dicurigai bagian belakang atau leher mengalami cedera. Jagalah korban tetap hangat. Segera bawa ke rumah sakit terdekat.

Pembidaian

Tujuan: Untuk menahan sendi/tulang yang patah agar tidak bergerak/bergeser. Menahan perdarahan dan mengurangi nyeri.

Cara: Siapkan bidai dari kayu yang pipih yang dibalut dengan kain. Panjang bidai melebihi jarak 2 sendi yang membatasi tulang yang patah. Lakukan pembidaian melewati 2 sendi yang membatasi tulang yang patah. Ikat bidai dengan balut/kain. Ikatan cukup jumlahnya,jangan kendor dan jangan terlalu kuat.

TERCEKIK/ TERSEDAK/TERSUMBAT JALAN NAFAS

Bila seseorang tercekik dan tidak dapat berbicara atau bernapas, segeralah anda memposisikan diri di belakang korban dan lingkarkan lengan anda di sekitar pinggangnya. Bentuklah sebuah kepalan/tinju, dan genggamlah kepalan itu dengan tangan yang lain. Tempatkan kepalan di bagian perut, di atas pusar dan dibawah ujung tulang dada. Doronglah kepalan ke arah perut mengarah ke atas seperti gerakan menikam. Ulangi sampai 4 kali. Bila sumbatan masih berlangsung, carilah bantuan medis. Bila korban tidak sadar, baringkan menyamping, tarik lidah dan rahang ke depan dan keluarkan benda yang terlihat menyumbat dengan jari telunjuk anda. Lakukan pernapasan dari mulut ke mulut.

KEJANG/ SERANGAN EPILEPSI

Cegahlah korban melukai dirinya terhadap benda didekatnya secara perlahan. Kendurkan pakaiannya setelah hentakan kejang berkurang. Baringkan korban. Alaslah kepala dan bahu korban dengan bahan yang lunak. Jagalah jalan napasnya agar tetap terbuka. Arahkan wajah korban ke samping sehingga ketika muntah tidak menyebabkan sumbatan karena menghirup muntahannya. Jangan menaruh apapun di mulut korban. Setelah kejang, biarkan pasien beristirahat. Bila masih kejang segera bawa ke rumah sakit terdekat.

Posisi Pemulihan: Baringkan korban yang tidak sadar bertumpu dengan sisi badan sebelah kanan. Tangan kanan menopang kepala. Tangan dan kaki kiri sebagai penyeimbang. Bila perlu, fiksasi/pertahankan posisi dengan mengganjal bagian belakang (punggung).Posisi ini tidak membebani kerja jantung dan pernapasan.

PINGSAN

Keadaan kehilangan kesadaran sesaat disebabkan aliran darah ke otak untuk sementara berkurang. Korban biasanya akan segera pulih. Pencegahan : Jika korban merasa mau pingsan, dudukkan korban di kursi dan mintalah dia untuk meletakkan kepalanya diantara kedua lututnya, dan disuruh tarik nafas panjang.

Tindakan :

  1. Lindungi korban dari bahaya
  2. Jauhkan korban dari keramaian
  3. Pastikan korban banyak mendapat udara segar
  4. Longgarkan pakaian korban
  5. Baringkan korban, kaki ditinggikan dan ditopang
  6. Berikan bau-bauan yang merangsang
  7. Setelah pulih periksa kemungkinan adanya cedera

TERSENGAT LISTRIK

Matikan aliran listrik bila memungkinkan. Bila tidak, dorong korban menjauhi sumber listrik dengan benda-benda yang tidak menghantarkan listrik seperti kursi kayu atau gagang sapu. Jangan menyentuh korban sampai hubungan dengan arus listrik terputus. Segera bawa korban ke rumah sakit terdekat.

CEDERA MATA

KIMIA : Tundukkan kepala korban sehingga lokasi cedera berada di bawah. Aliri mata dengan air yang banyak selama minimal 15 menit. Tutuplah mata dengan kain bersih dan carilah bantuan medis.

BENDA ASING : Jangan mengucek-ngucek mata karena mungkin akan menyebabkan cedera yang lebih dalam. Mengedip-ngedipkan mata beberapa kali dapat mendorong benda asing keluar. Cobalah menemukan benda asing tersebut, bila berada di bagian mata yangberwarna, atau kelihatannya melekat di bagian putih dari mata, pergilah segera ke bagian emergensi. Bila benda tersebut mengapung di permukaan air mata, anda boleh mencoba mengeluarkannya. Bukalah kelopak mata bagian bawah, perhatikan benda asingnya. Gunakan tepi sehelai kain bersih, sapulah ke luar benda asing tersebut dengan cepat dari permukaan mata. Bila anda tidak dapat melihatnya, tariklah kelopak bagian atas ke bawah dan baliklah kelopak tersebut. Ini mungkin akan bisa mengeluarkan benda tersebut. Bila terjadi nyeri dan sobekan, carilah bantuan medis.

SENGATAN DAN GIGITAN BINATANG

Sengatan tawon atau lebah: Cobalah melepaskan alat penyengatnya dengan mengikis secara perlahan dengan mata pisau yang bersih. Bersihkan dengan sabun dan air serta berikan kompres es untuk mengurangi bengkak. Bila korban mempunyai reaksi alergi (akan terjadi dalam waktu 30 menit), seperti ruam kulit, gatal di mana-mana, bunyi napas mencuit, muntah, atau ada riwayat reaksi alergi, segera bawa ke petugas kesehatan terdekat.

Gigitan ular berbisa :  Tanda digigit ular berbisa: Berkeringat dingin, sakit kepala, muntah, diare, sakit perut sampai kehilangan kesadaran.

Ciri-ciri ular berbisa:

  1. Bentuk kepala segi empat panjang,
  2. Gigi taring kecil,
  3. Bekas gigitan: luka halus berbentuk lengkungan.

Ciri-ciri ular tidak berbisa:

  1. Bentuk kepala segi tiga,
  2. Dua gigi taring besar di rahang atas,
  3. Dua luka gigitan utama akibat gigi taring.

Penanganan: Istirahatkan korban. Bagian yang tergigit jangan digerakkan. Tenangkan korban. Beri obat penghilang rasa sakit. Segera ikat bagian atas dan bawah dari gigitan. Jangan mengisap bisa ular keluar. Jangan memotong atau mengiris daerah gigitan. Korban dilarang berjalan dan minum minuman beralkohol. Segera bawa ke rumah sakit terdekat.

Sengatan kalajengking :  sengatan kalajengking ada yang berbahaya dan ada yang tidak berbahaya. Sengatan yang tidak berbahaya menyebabkan pembengkakan, kemerahan dan rasa sakit yang tidak menjalar sedangkan sengatan yang berbahaya menyebabkan keracunan bisa yang ditandai dengan keluar keringat berlebihan, gelisah, sulit bernapas dan kejang. Penanganan: Tenangkan korban. Bersihkan tempat sengatan dengan menggosokkan alkohol. Kompres es pada tempat sengatan pada beberapa jam pertama. Jangan mengisap bisanya atau mengiris tempat sengatan. Bila gejala memberat segera bawa ke rumah sakit.

KERACUNAN

Jangan memberikan pertolongan pertama bila korban tidak sadar atau mengalami kejang. Bila korban kejang, perlakukan seperti prosedur menangani kejang.

Bila bantuan medis tidak bisa segara datang, lakukan prosedur berikut:

A. Jangan merangsang untuk muntah bila jenis racun tidak diketahui, merupakan cairan korosif/merusak (asam, cairan pembersih, alkali/sabun), atau bahan minyak (bensin, terpentin, tiner cat, cairan mudah terbakar lainnya). Jangan menggunakan arang aktif/norit.

B. Rangsanglah untuk muntah bila jenis racun diketahui dan bukan merupakan cairan korosif maupun produk minyak. Cara merangsang untuk muntah: minum air yang banyak (minimal 5 gelas), sentuhlah bagian belakang lidah korban. Bila korban telah selesai muntah ikuti dengan pemberian karbon/arang aktif (bila tersedia). Lakukan prosedur B ini bila korban dalam keadaan sadar.

Bawalah wadah racun (atau muntahannya bila jenis racun tidak diketahui) bersama korban ke rumah sakit dengan segera.

• Department of Education, Training and Employment (2001). First aid in early childhood centres and schools: a resource to support provision of first aid in childcare and education settings. South Australia. • Epilepsy Foundation of Victoria. Your Knowledge Could Save a Life. • Indriani, C. 2004. First Aid Training. Yogyakarta. • Iowa Methodist Medical Center Emergency Department. Emergency First Aid Chart. • Johnson & Johnson Consumer Companies, Inc. 2001-2003. First Aid Guide. • Stanway, A.1992. Family First Aid and Emergency Handbook. Sheldon Press. Great Britain. • Sudoyo, Aru W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: